Hai proletar, malang nian nasib mu Semakin hari makin terpinggirkan Bercengkrama dengan kesengsaraan Dan tak ada yang memikirkan Istri mu sibuk jadi tukang cuci, sementara kau jadi kuli Terkadang dunia seakan memberi simpati Tapi sayang hanya simpati semu semata Tak ada yang mereka berikan selain sedekah Ya sedekah, yang nilainya tak seberapa Tapi cukup tuk menjatuhkan harga dirimu Jika kau menolak, mereka menyebutmu angkuh Jika kau menuntut hak mu, mereka menganggap mu pengemis Sungguh ironis Malam telah larut Dan jiwa mu makin menciut Di wajah mu yang keriput Tergambar jelas carut marut Ah, baik nya kita akhiri saja semua ini
Demokrasi Sosialis, Totally Revolusioner