Hai proletar, malang nian nasib mu
Semakin hari makin terpinggirkan
Bercengkrama dengan kesengsaraan
Dan tak ada yang memikirkan
Istri mu sibuk jadi tukang cuci, sementara kau jadi kuli
Terkadang dunia seakan memberi simpati
Tapi sayang hanya simpati semu semata
Tak ada yang mereka berikan selain sedekah
Ya sedekah, yang nilainya tak seberapa
Tapi cukup tuk menjatuhkan harga dirimu
Jika kau menolak, mereka menyebutmu angkuh
Jika kau menuntut hak mu, mereka menganggap mu pengemis
Sungguh ironis
Malam telah larut
Dan jiwa mu makin menciut
Di wajah mu yang keriput
Tergambar jelas carut marut
Ah, baik nya kita akhiri saja semua ini

Komentar
Posting Komentar