Kaum borjuasi, telah memecah belah kekuatan revolusioner, lewat sistem pengupahan yang di bedakan. Antara si penjilat dan mereka yang tetap mempertahankan independensinya. Akibatnya hari-hari ini, arah juang rakyat pekerja semakin tidak menentu.
Sebagian mereka yang berada di garis bawah, yang hak nya tercabik-cabik oleh sistem kerja yang memeras tenaga dan otak. Kini mulai di tinggal oleh kawan-kawannya sendiri sesama kelas pekerja. Oleh karena posisi dan upah yang kini di berikan kepada nya telah sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga si pekerja ini merasa bahwa kalau mau hidup enak, haruslah menjilat pada pengusaha. Dan bukanlah dengan jalan revolusi, merubah cara produksi yang lebih adil.
Sampai disini, sudah nampak jelas ketimpangan yang di hasilkan oleh para borjuis-kapitalis. Dan kekacauan yang hendak ia hasilkan sehingga mendapatkan pekerja dengan upah murah dengan hanya memberi hasil lebih kepada 2-3 pekerja saja.
Lalu bagaimana dengan nilai lebih yang di hasilkan pekerja lain? Tentu saja semuanya telah tercuri oleh perusahaan, dan di maksudkan untuk menambah kapital, juga untuk menjaga agar supaya si pekerja tak bisa terlepas dari belenggu perusahaan. Mengapa bisa begitu? Sebab pencurian nilai lebih oleh kapitalis mengakibatkan nilai/upah yang di terima si pekerja hanya cukup untuk hidup satu hari. Sehingga bila si pekerja libur satu hari saja, maka dapat di pastikan ia akan mengalami defisit keuangan rumah tangga. Hal inilah yang terjadi, didalam masyarakat kapitalis, yakni ketergantungan yang di ciptakan.
Dan yang menjadi masalah kini, apabila si pekerja menuntut keadilan kepada perusahaan. Maka ia akan di perhadapakan dengan kawan-kawannya sendiri tadi. Yang selama ini turut menikmati pencurian nilai lebih dari kawannya sendiri sesama kelas pekerja.
Baku pukul lah diantara mereka dengan kata-kata. Disatu pihak menuntut keadilan, dan di pihak lain membela habis-habisan perusahaan. Situasi semacam ini yang kerap terjadi sekarang ini. Yang membuat para pengusaha semakin diatas angin. Di tambah lagi, hukum dan negara semuanya di kuasai kelas mereka yakni pengusaha. Sehingga telah jelas pula hukum dan negara itu pasti lah berpihak pada mereka. Demikian mengharukan nasib kelas pekerja kita. Dikotak-kotakkan dan diadu domba, didungukan dan dimiskinkan. Persis taktik kolonial Belanda yakni 'devide et impera' atau politik adu domba yang membuat rakyat Indonesia terjajah 350 Tahun lamanya. Karena sibuk dipertikaikan diantara sesama.
Akhirnya dari semua ini, dimaksudkan agar menimbulkan kesadaran bagi kelas pekerja agar mau bersatu padu melawan ketidakadilan. Dengan mengutip perkataan sang revolusioner 'Che' Guevara bahwa "siapa saja yang bergetar dengan geram, setiap melihat ketidakadilan, maka dia adalah kawan saya" mari kita rapatkan barisan.

Komentar
Posting Komentar